Tadi sore aku memimpikan mu. Bukan hanya kamu, tapi aku juga bersama seorang wanita yang bernyanyi bersama ku. Dia mempunyai perangai yang ramah, selalu tersenyum, suaranya membahagiakan hatiku. Saat itu aku bersamamu juga, dan aku hampir lupa kalau itu adalah mimpi. Rasanya, hidup seperti itu sangat menyenangkan, bersama kekasih dan sahabat. Mungkin senyumku akan mimpi itupun belum habis sampai malam kembali melelapkanku. Sungguh, itu mimpi yang sangat indah.
Transformasi
Seberapa pentingkah untuk mengenal diri kita sendiri? Aku dulu mungkin akan lebih senang memerhatikan soal hitung-hitungan, ketimbang hal-hal yang bersifat filosifis. Tapi beginilah hidup, kita tumbuh menjadi semakin dewasa, hingga kita sadar akan nilai yang ada dalam diri kita.
Aku lahir di keluarga yang minim pendidikan. Syukur, aku bisa lanjut hingga ke bangku perkuliahan. Ibu dan ayahku hanya mampu menempuh pendidikan SMA. Begitupun mayoritas adik-adik atau kakak-kakak dari kedua orang tua ku. Mereka tidak memiliki background pendidikan yang seperti orang lain punya. Kami keluarga sederhana, yang tinggal dilingkungan sederhana. Kita mungkin boleh menilai orang lain, asalkan kita memang benar-benar memikirkan dari segala sudut pandang, termasuk background keluarga.
Bingung. SD, SMP, dan SMA, semuanya berjalan lancar. Nilai pas-pasan dan prestasi yang juga pas-pasan.
Remaja. Masa yang tanpa harus berfikir panjang. Memandang hidup hanya sebatas sesuatu yang harus dijalani, tanpa terencana, tanpa memandang arti kehidupan itu sendiri.
Perkuliahan. Kita tidak bisa hanya bermodal pas-pasan. Pasalnya uang SPP mahal! Orang tua cari duit susah, modal pas-pasan hanya akan membebani jiwa dan mengecewakan orang tua. Masa perkuliahan adalah masa transisi antara remaja menuju kedewasaan. Sudah dewasa? Belum, namun inilah masa transisi, dimana informasi-informasi yang diperlukan untuk menjadi dewasa dikumpulkan. Dengan background keluarga dan pemahaman saya ketika remaja, saya tersesat. Mungkin ada kata lain yang dapat menggambarkannya lebih baik, tapi saya dulunya memang tersesat.
2 Tahun
"Ngapain aja selama dua tahun ini?" Merupakan pertanyaan tersulit, karena tidak bisa digambarkan dalam bentuk kalimat. Untuk mengetahui hal tersebut, saya mau orang itu benar-benar merasakan, bukan hanya sekedar anggukan setuju.
Aku rasa, duat tahun itu merupakan tahun yang sangat produktif dalam pengumpulan informasi yang membentuk karakter ku sebagai orang dewasa. Masuk UNDIP, bergaul dengan orang-orang disana, membiasakan kehidupan yang berbeda budaya. Bukan itu kendalanya, hanya saja saat itu saya benar-benar tersesat, dan saat itu memang merupakan masa transisiku. Hingga aku mengambil keputusan, keluar dari sana. Karena aku bisa rasain kalau aku ga akan maksimal belajar disana.
"Daripada aku harus lanjut, dan menghabiskan lebih banyak uang, aku keluar!"
Akhirnya keputusan itu aku buat. Aku keluar. Bukan suatu pilihan yang mudah, namun memang sudah jalannya harus ditempuh seperti itu. Disana aku hidup merantau, sambil mencari beasiswa maupun lowongan kerja. Akhirnya aku ketemu dengan konsultan pendidikan Alfalink. Akhirnya membawaku dengan peluang beasiswa Nilai University (Malaysia) dan Asia-Pacific University (Jepang). Sambil mengurus beasiswa ini, aku ikut kegiatan-kegiatan sosial, seperti sukarela mengajar anak-anak.
Inilah yang perlu diklarifikasi, kegiatanku di Forum For Indonesia (FFI) dan AIESEC sama sekali tidak mempengaruhi keputusanku untuk keluar dari UNDIP. Keputusanku itu murni karena keinginan diriku sendiri. Kegiatan-kegiatan kepemudaan maupun sosial yang kulakukan waktu itu, hanyalah menjadi pengisi waktu yang sangat luang waktu itu. Bayangkan saja, sementara yang lain kuliah, saya hanya bisa terbaring dikasur, tidur-tiduran. Bukankah mengisi aktivitas dengan kegiatan sosial lebih positif?
Terima kasih rekan-rekan dari IYLS, FFI, AIESEC, E-Star ITB, NuMUN, IYCS, dan JOVED yang telah membuka pemahamanku lebih dalam terhadap dunia yang kita geluti dan mengajarkan banyak hal untuk dapat menjadi manusia yang berguna. "Guys, Love you...!" Pengalaman yang kudapat selama perjalanan-perjalanan itu begitu berharga hingga tak ternilai. Tentunya tidak semua orang bisa mendapat kesempatan sepertiku, walaupun untuk saat ini aku masih jauh di bawah rata-rata.
Kerja
Saat itu ketika menjadi moderator untuk MLC International Camp, si CEO-nya tanya, singkatnya itu berupa tawaran kerja di salah satu perusahaan telekomunikasi.
Itu mungkin pengalaman terpahit selama dua tahun tersebut. Tapi aku ga bisa kan, cuma tidur-tiduran di kosan? Aku harus melakukan aktivitas. Tawaran pekerjaan, tentunya menjadi angin segar ketika itu, selain bisa menghabiskan waktu, pekerjaan tersebut juga menawarkan gaji yang lumayan. Tapi aku salah, ga seharusnya aku menyepelekan pekerjaan sebagai kegiatan pengisi waktu luang.
Tanpa persiapan yang matang, performa kerjaku pun sangat buruk. Bisa dibayangkan, ada seorang anak kecil yang masuk ke kantor untuk mencoba bekerja, pastinya anda akan terasa risih. Anak kecil itulah diriku saat itu. Pahitnya lagi, gara-gara kerjaan yang diluar dugaan (benar-benar diluar prediksi), aku ga bisa mengejar persiapan untuk SNMPTN 2012. Dari sisi pekerjaan aku hanya dapat cacian, sementara dari sisi pendidikan aku ga lulus SNMPTN. Benar-benar masa yang gelap.
Tak juga semua itu menjauhkan ku dari rasa syukur. Dari kejadian itu aku belajar untuk mengambil keputusan, lebih kritis dan jeli terhadap suatu tawaran, lebih memerhatikan hak kedua belah pihak, dan gambaran masa kerja. It's priceless. Aku bersyukur karena masalah ini datang lebih awal saat aku berumur 18 tahun. Ternyata setelah sampai kini, ada banyak orang yang jatuh ke lubang yang sama seperti ku dulu.
Banyak sekali faktor kenapa pekerjaan itu sangat memberatkan diluar dari yang kusebutkan di atas. Karena ini menyangkut pihak ketiga, jadi aku ga bisa untuk berbicara lebih panjang. Sekarangpun, aku mencoba untuk melihat semua dari sisi positifnya.
Terima Kasih
Ada sebuah nama yang sangat mempengaruhi perjalanan dua tahun ku itu. Mutiara Hikma Mahendradatta, seorang yang pintar, jenius, dan inspiratif. Dikenal juga dengan nama Andromeda Kanginan, nama penanya untuk beberapa buku yang ditulisnya. Selalu menjadi motivasiku, bahkan hingga kini. Orang ini sering ku jadikan contoh ketika memotivasi para perempuan untuk lebih mandiri dan berprestasi.
Kini dia sudah berkeluarga dan sedang mengandung seorang anak di Korea Selatan, sambil melaksanakan kuliahnya. Ahh.... Rasanya ikut bahagia :)
Untuk semuanya Mut, Aku berterima kasih.
Beasiswa
Sudahlah, akupun sudah ikhlas. Seandainya saya di Inggris, bagaimana saya bisa menenangkan pikiran mama di kala masalah yang sedang dihadapi keluarga kami seperti saat ini. Seandainya saya di Jepang, bagaimana saya akan ada didekat mama, kala ia sakit. Seandainya saya di Malaysia, harus berapa uang yang harus saya keluarkan untuk membeli tiket pulang-pergi Banda Aceh-KL. Aku kepala keluarga disini, dan tidak mungkin aku hanya meninggalkan tanggungjawabku begitu saja. Intinya, aku berbeda dengan yang lain, beban ku berbeda dengan anak lainnya.
Paling penting lainnya, perjalanan panjang itu telah mempertemukan saya dengan sobat-sobat baru, yang superb!
Bersambung...









